TRENDING

Perjalanan 35 Tahun di Dunia Kuliner, Nugroho Susanto Kini Dipercaya Pimpin Dapur MBG di Surabaya

3 menit membaca View : 30
Redaksi
Berita - 03 Feb 2026

JATIMPOINT.COM | SURABAYA – Perjalanan panjang selama 35 tahun di dunia kuliner, menjadikan sosok Chef Nugroho Susanto kini dipercaya mengelola dapur layanan gizi anak sekolah.

Saat ini Nugroho Susanto menjabat sebagai Kepala Chef Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Babat Jerawat Pakal, ia memimpin dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melayani 2.933 penerima manfaat di Surabaya.

Chef yang akrab disapa Pak Hok ini menjelaskan bahwa pengalaman panjang di industri makanan menjadi fondasi utama dalam penerapan standar ketat pengolahan menu MBG.

Program MBG merupakan kebijakan nasional di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional, yang dijalankan melalui SPPG sebagai unit layanan pemenuhan gizi bagi peserta didik.

Nugroho Susanto lahir di Tuban pada September 1971 dan memulai karier kulinernya sejak masa kuliah. Ia menapaki profesi dari pencuci piring, penyiap bahan, hingga juru masak.

Sebelum akhirnya memahami dapur secara menyeluruh, mulai dari manajemen bahan baku, pengendalian kualitas, hingga kerja tim dalam skala besar.

“Sejak 2007, saya bergabung dengan Jenggolo Restaurant Manyar Surabaya sebagai manajer, menangani operasional dapur dan menu premium” Kata Nugroho saat ditemui di dapur SPPG Babat Jerawat Pakal, Surabaya, Selasa (3/2/2026).

Pengalamannya kemudian meluas ke berbagai restoran tematik, kafe, hingga hotel berbintang di Surabaya, yang menuntut konsistensi rasa, efisiensi produksi, serta standar kebersihan tinggi.

Pengalaman profesional tersebut kini diterapkan di dapur SPPG Babat Jerawat Pakal. Nugroho memastikan setiap bahan pangan diperiksa secara ketat, mulai dari warna, tekstur, kuantitas, hingga sistem penyimpanan cold storage dengan prinsip first in first out (FIFO).

“Kita hitung muat penyimpanan, pastikan kualitas prima. Menu baru? Saya cicipi dulu untuk keseimbangan rasa, warna, nutrisi, lalu dites oleh ahli gizi dan tim pengolahan hingga sesuai standar,” ujarnya.

Di SPPG ini, Nugroho juga berperan sebagai pemeriksa rasa untuk dapur-dapur di bawah Yayasan Eduria Kreasi Bangsa.

Ia bekerja bersama tim inti yang terdiri dari Kepala SPPG Ayundha Atbelmay Ade Kutari sebagai koordinator operasional, Ahli Gizi Ryka Novitasari yang mengawal standar nutrisi, serta Asisten Lapangan Rizky Aziz yang menangani logistik dan distribusi ke sekolah penerima manfaat.

Menu MBG disusun mengikuti pedoman gizi nasional dengan komposisi seimbang, mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah. Variasi menu disesuaikan dengan selera anak sekolah agar mudah diterima, tanpa mengabaikan target kebutuhan energi harian.

Secara nasional, pelaksanaan SPPG juga didukung ribuan chef profesional yang dilibatkan pemerintah bersama Indonesian Chef Association untuk melatih juru masak SPPG agar memenuhi standar higienitas dan keamanan pangan.

Bagi Nugroho, memimpin dapur SPPG bukan sekadar soal skala produksi, melainkan tanggung jawab sosial.

“Sejak kuliah sudah terjun di dapur, sekarang tugasnya memastikan anak-anak Surabaya mendapat makanan bergizi yang aman dan layak,” ujarnya.

Ia berharap dapur SPPG Babat Jerawat Pakal dapat menjadi contoh pengelolaan layanan gizi sekolah yang profesional dan berkelanjutan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
banner 480x320