TRENDING

Berbeda Partai, Bersatu untuk Kota Malang: Para Ketua Parpol Duduk di Malang Satu Meja

3 menit membaca View : 30
Redaksi
Berita - 11 Sep 2026

Jatimpoint.com | Delapan warna politik bertemu dalam satu meja. Bukan untuk mempertajam perbedaan, tetapi mencari titik temu demi kepentingan Kota Malang.

Semangat itulah yang dibawa dalam pertemuan di “Malang Satu Meja”, yang mempertemukan para pimpinan partai politik pemilik kursi di DPRD Kota Malang.

Pertemuan ini digagas oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin, S.M., dan berlangsung di kawasan Latar Ijen, Kamis (10/9/2026) malam.

Pertemuan tersebut memperlihatkan wajah lain dari politik lokal. Para pimpinan partai yang memiliki garis perjuangan dan kepentingan politik berbeda memilih duduk bersama, membangun komunikasi dan membicarakan persoalan Kota Malang dalam suasana yang cair.

Dari delapan Ketua partai di Kota Malang, hadir Djoko Prihatin dari Partai Golkar, Amithya Ratnanggani Sirraduhita dari PDI Perjuangan, Rimzah mewakili Gerindra, Eko Hadi Purnomo dari PAN, Hj. Hikmah Bafaqih dari PKB, Dedi Sumanto dari PSI, serta Moh. Syaiful Ali Fatah dari PKS dan Dr. Sayudi dari NasDem.

Partai Demokrat juga sebelumnya telah berkomunikasi dan menyatakan akan hadir. Namun, karena adanya agenda mendadak, Demokrat akhirnya berhalangan mengikuti pertemuan tersebut.

Bagi Djoko Prihatin, pertemuan ini memiliki pesan yang lebih besar dari sekadar silaturahmi. Perbedaan partai tidak boleh menjadi tembok yang menghalangi komunikasi ketika kepentingannya adalah Kota Malang dan masyarakatnya.

“Ini adalah perdana yang kita lakukan. Semoga akan lebih intens lagi dan terjadwal, sehingga ngobrol masalah Kota Malang seperti ini tidak harus di gedung DPRD. Di kafe atau di mana saja bisa, sambil ngopi kan asik,” ujar Djoko.

Menurut Djoko Prihatin yang baru saja dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Muda Politik Penggerak Demokrasi Inklusif ini, komunikasi lintas partai justru penting dibangun secara rutin. Tidak semua persoalan harus langsung dibawa ke ruang formal.

Dengan duduk bersama, para pimpinan partai dapat saling mendengar, memahami sudut pandang masing-masing dan mencari kemungkinan solusi secara bersama-sama.

Di sinilah “Malang Satu Meja” ingin mengambil peran, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk bertukar gagasan, bukan alasan untuk saling menjauh.

Djoko Prihatin mengatakan, berbagai persoalan dan pekerjaan rumah Kota Malang yang muncul dalam pertemuan tersebut nantinya dapat menjadi bahan untuk dibawa ke forum resmi.

“Persoalan atau pekerjaan rumah kita semua akhirnya bisa diulas dan sebagai bahan acuan dalam forum resmi nantinya. Ya minimal buat bahan lah, kita ngobrol dulu dengan santai,” katanya.

Ruang persatuan lintas partai ini juga tidak menutup kemungkinan diperluas. Djoko membuka peluang menghadirkan jajaran Pemerintah Kota Malang dalam agenda berikutnya, termasuk Wali Kota Malang dan Wakil Wali Kota Malang.

“Ya nanti mungkin ada agenda dengan Wali Kota Malang, dengan Wakil Wali Kota dan lainnya,” imbuhnya.

Forum tersebut diharapkan berkembang menjadi agenda yang lebih rutin. Sebab, pembangunan kota membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk partai politik yang memiliki representasi di parlemen.

Pada akhirnya, “Malang Satu Meja” ingin menegaskan satu hal: partai boleh berbeda, pilihan politik boleh beragam, tetapi kepentingan Kota Malang harus tetap menjadi titik persatuan.

Dari meja yang sama, para pimpinan partai diharapkan tidak hanya membangun komunikasi, tetapi juga melahirkan gagasan dan kolaborasi untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Berbeda warna politik, satu kota yang diperjuangkan. Malang Satu Meja menjadi ruang untuk membuktikannya. (Ren)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *